rumah tusuk sate dan fengshui

 pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr, wb.

Alhamdulillah saat ini saya telah memiliki rumah walaupun dengan cara menyicil ke pihak bank. Selama ini saya tidak terlalu mempercayai feng shui ataupun rumah tusuk sate.

Namun setelah tetangga saya pindah rumah hingga over kredit sebabnya posisi rumah dia pas di tusuk sate tersebut saya jadi agak terpengaruh, karena posisi rumah saya terletak di sebelah kiri rumah yang tusuk sate itu, dengan posisi menghadap ke arah timur.

Yang saya ingin tanyakan bagaimana Islam memandang fengshui atau rumah tusuk sate? Dan posisi bagaimana yang ideal untuk dijadikan tempat tinggal? Apakah terpengaruh dengan posisi matahari, udara atau tanah?

Terimakasih sebelumnya

Wassalam’ualaikum wr, wb.

carduso@plasa.com
carduso@plasa.com at eramuslim.com

jawaban: 

Assalaamu’alaikum wr, wb.

Bapak Carduso di plasa.com

Bagaimanapun juga rumah sudah di tangan. Walaupun dengan kredit. Rizki orang beda-beda. Ini yang perlu kita syukuri. Jika melihat keluar, memang kesannya rumput tetangga selalu lebih hijau.

Fengshui yang saya ketahui adalah menilai bangunan sesuai dengan iklim dan keadaan lingkungan. Dalam istilah saya saat dulu kuliah di Universitas Pancasila, analisa data. Dari analisa tersebut menghasilkan sintesa atau kesimpulan yang menyatakan tentang hasil survey tersebut.

Selama ia tidak mengganggu akidah tak ada masalah. Contoh: rumah yang ber-nomor 13 membawa sial. Rumah dekat kuburan tidak membawa rejeki. Rumah di tusuk sate penghuninya akan tidak beruntung. Nah, jika arahnya ke sini Islam tentu melarang. Karena nasib ada di tangan Allah. Allahu Shomad. Allah tempat bergantung demikian yang tertera dalam surat al-Ikhlas.

Sebaiknya kita mengarah kepada data-data teknis saja yang tidak mengganggu akidah. Seperti rumah tusuk sate harus diamankan dari segi tikungan tempat mobil berlalu dan sorot lampu mobil jika malam. Untuk itu arah yang bertepatan dengan tusuk satenya di-blok saja dengan pagar. Hingga lalu lalang penghuninya aman dari motor dan mobil yang menikung di areal itu.

Bisa juga meletakkan pohon atau kerei bambu pada sisi lahan tikungan tadi. Sebagai ‘buffer‘ atau penyekat yang dapat menghambat sorot lampu atau panas matahari. Juga arah pandangan mata yang dapat mengganggu privasi.

Kalaupun rumah tusuk sate atau kuburan itu menurut anggapan orang kurang laku dijual itu bukan karena nasibnya yang jelek. Menurut saya marketnya yang tidak banyak. Sama saja dengan mobil kijang yang banyak laku dijual karena murah meriah serta famly car. Sementara sedan BMW jarang pembelinya karena memang kelas atas dan mahal. Apakah BMW membawa sial dan kijang membawa rejeki? Tentu tidak demikian pola pikirnya.

Untuk rumah ideal yang jelas memang tergantung dari keadaan lingkungan. Idealnya ia mengahadap matahari pagi. Hingga saat pagi ia dingin, sejuk dan sehat. Lalu saat siang panas matahari ada di belakang rumah dan sudah siap untuk mengeringkan jemuran kita yang memang berada di belakang.

Ini idealnya bagi rumah-rumah yang berada di lingkungan perumahan yang berbentuk kapling-kapling. Untuk rumah dengan lingkungan terbuka, pegunungan atau tanah yang luas tentu varian analisisnya akan lebih beragam lagi.

Terakhir, mari kita bersyukur dengan apa yang kita miliki. Jika memang tusuk sate yang kita miliki, maka mari kita berharap agar ia menjadi berkah. Jangan sampai mengharap burung terbang di angkasa namun telur digenggaman terlepas. Jangan sampai pula kita menjadi hamba yang kufur.

Rasul saja saat kakinya bengkak-bengkak karena sholat menjawab: ‘aku ingin menjadi abdan syakuro’. Sebuah jawaban yang membuat Aisyah sang isteri tercinta tak pernah melupakan akhlak Rasullah yang jika ditanya tentang perilaku beliau: ‘Kaana khuluqul Qur’an’. Subhanallah. Rasul yang sudah dijamin masuk syurga saja memiliki akhlak yang sama dengan qur’an dan bercita-cita menjadi hamba yang bersyukur. Apalagi kita hamba yang lemah ini.

Semoga kita dapat mencontoh beliau dan sabar dalam menjalankan sunnah-sunnahnya. Hingga kita kelak dapat bergabung dengan beliau di telaga kautsar pada saat padang mahsyar di gelar. Aamiin.

Demikian Pak Carduso. Semoga dapat dipahami. Dan semoga kita hanya bergantung pada Allah saja. Tidak yang lain.

Wassalaamu’alaikum wr, wb.

Ir. Andan Nadriasta

era muslim

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.