sudahkah kita berilmu?

Mari bicara tentang ilmu. Ada dua hadits tentang ini yang menarik untuk didiskusikan. Hadits pertama bunyinya: ” Mencari ilmu (thalabul ilmi) wajib hukumnya bagi setiap muslim.” Hadits kedua berbicara tentang amal jariyah, yaitu amal yang tidak terputus pahalanya walau seorang muslim telah meninggal dunia, di antara tiga amal itu rasulullah juga menyebut, ” … ilmu yang bermanfaat, …” Ini redaksi lengkapnya:

Dari Abu Hurairah RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW, telah bersabda
: “Bila seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali
tiga hal : amal jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang
mendo’akannya” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrad).

Dalam hadits yang pertama muncul kekhasan Islam dalam memerintahkan sesuatu, yaitu menekankan pada proses dan bukan semata-mata hasil. Hadits itu tidak menuntut kita jadi pinter kan? Hadits itu menuntut kita agar berusaha untuk pinter dengan segala daya dan upaya. Tapi kalau ternyata kenyataannya dalam ilmu tertentu itu kita nggak bisa pinter-pinter juga, kewajiban kita toh sudah tertunaikan. Soalnya tidak bisa dipungkiri bahwa tiap orang punya kelebihan dan kelemahan yang berbeda-beda dalam memahami suatu ilmu. Jadi kalo antum, misalnya udah kuliah di Sipil mati2an tapi nggak mudeng-mudeng juga karena keterbatasan yang ada pada antum, maka tidak mengapa. He..he.. ketahuan kalo saya lagi nyari legitimasi ya…Tapi itu kalo kita cuma pengin lepas dari tuntutan kewajiban saja, coba lihat hadits kedua! Hadits ini menunjukkan tingkatan yang lebih tinggi dan tuntutan yang lebih tinggi pula bagi seorang muslim. Dalam hadits ini, kalo pengin dapet pahala yang tidak terputus sampe kiamat ada dua syarat (yang hubungannya sama ilmu):

1. Punya ilmu
Tuh, tidak sekedar mencari, tapi harus dapet ilmunya. Artinya menguasai ilmu itu.

2. Ilmu itu bermanfaat
Selaras dengan hadits lain yang bunyinya, ” Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.”

Nah, coba refleksikan ke diri kita. Saat ini barangkali kita sudah cukup bersemangat mencari ilmu. Kuliah, baca buku, surfing internet, kajian, dsb. Bisa jadi kita udah lepas dari tuntutan hadits pertama (bisa jadi lho, soalnya kadang males juga kan berangkat kajian, kuliah and baca buku?). Tapi sudahkah kita mendekati keinginan hadits kedua? Untuk mengetahuinya kita perlu selidiki dulu dua hal di atas.

Pertama, dari mana kita tahu kita telah berilmu? Di sekolah ada metode yang sering digunakan untuk menilai seberapa berilmunya kita. Betul, dengan ujian tulis. Ujian memberikan kita gambaran seberapa besar kemampuan kita dalam bidang yang diujikan itu, kecuali kalo kita nyontek atau njaplak. Sayangnya memang tidak semua ilmu bisa dideteksi kadarnya dari metode ini, mengingat begitu bervariasinya ilmu yang musti kita pelajari. Maka sebenernya ada metode yang lebih mudah, lebih murah dan lebih akurat menurut saya untuk mendeteksi kadar ilmu kita. Ini akan coba saya jelaskan di waktu yang akan datang, Insya Allah (soalnya waktu ngenetnya udah abis…).

Jiwaku adalah jiwa yang selalu bergejolak.
Setiap ia mendapatkan sesuatu maka ia akan meminta yang lebih.
Kini, aku telah berada di puncak kekuasaan. Maka sekarang jiwaku menginginkan surga.

(Umar bin Abdul azis)

Muhammad Yudhy Herlambang

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s